Rabu, 21 November 2012

Cara Membuat Nata De Soya


  1. PENDAHULUAN
Nata adalah biomassa yang sebagian besar terdiri dari selulosa, berbentuk agar dan berwarna putih. Massa ini berasal pertumbuhan Acetobacter xylinum pada permukaan media cair yang asam dan mengandung gula. 
Nata dapat dibuat dari bahan baku air kelapa, dan limbah cair pengolahan tahu (whey tahu). Nata yang dibuat dari air kelapa disebut dengan nata de coco, dan yang dari whey tahu disebut dengan nata de soya. Bentuk, warna, tekstur dan rasa kedua jenis nata tersebut tidak berbeda. 
Pembuatan nata tidak sulit, dan biaya yang dibutuhkan juga tidak banyak. Usaha pembuatan nata ini merupakan alternatif usaha yang cukup menjanjikan (prospektif). 

Fermentasi Nata dilakukan melalui tahap-tahap berikut:
a.       Pemeliharaan Biakan Murni Acetobacter xylinum
Fermentasi nata memerlukan biakan murni Acetobacter xylinum. Biakan murni ini harus dipelihara sehingga dapat digunakan setiap saat diperlukan. Pemeliharan tersebut meliputi :
§  Proses penyimpanan sehingga dalam jangka waktu yang cukup lama viabilitas (kemampuan hidup) mikroba tetap dapat dipertahankan, dan
§      Penyegaran kembali mikroba yang telah disimpan sehingga terjadi pemulihan viabilitas dan mikroba dapat disiapkan sebagai inokulum fermentasi.
Penyimpanan.
A.xylinum biasanya disimpan pada agar miring yang terbuat dari media Hassid dan Barker yang dimodifikasi dengan komposisi sebagai berikut : Glukosa (100 gram), ekstrak khamir (2,5 gram), K2HPO4 (5 gram), (NH4)2SO4 (0,6 gram), MgSO4 (0,2 gram), agar (18 gram) dan air kelapa (1 liter). Pada agar miring dengan suhu penyimpanan 4-7°C, mikroba ini dapat disimpan selama 3-4 minggu.
Penyegaran.
Setiap 3 atau 4 minggu, biakan A. xylinum harus dipindahkan kembali pada agar miring baru. Setelah 3 kali penyegaran, kemurnian biakan harus diuji dengan melakukan isolasi biakan pada agar cawan. Adanya koloni asing pada permukaan cawan menunjukkan bahwa kontaminasi telah terjadi. Biakan pada agar miring yang telah terkontaminasi, harus diisolasi dan dimurnikan kembali sebelum disegarkan.

b.      Pembuatan Starter
Starter adalah populasi mikroba dalam jumlah dan kondisi fisiologis yang siap diinokulasikan pada media fermentasi. Mikroba pada starter tumbuh dengan cepat dan fermentasi segera terjadi. Media starter biasanya identik dengan media fermentasi. Media ini diinokulasi dengan biakan murni dari agar miring yang masih segar (umur 6 hari). Starter baru dapat digunakan 6 hari setelah diinokulasi dengan biakan murni. Pada permukaan starter akan tumbuh mikroba membentuk lapisan tipis berwarna putih. Lapisan ini disebut dengan nata. Semakin lama lapisan ini akan semakin tebal sehingga ketebalannya mencapai 1,5 cm. Starter yang telah berumur 9 hari (dihitung setelah diinokulasi dengan biakan murni) tidak dianjurkan digunakan lagikarenakondisifisiologis mikroba tidak optimum bagi fermentasi, dan tingkat kontaminasi mungkin sudah cukup tinggi. Volume starter disesuaikan dengan volume media fermentasi yang akan disiapkan. Dianjurkan volume starter tidak kurang dari 5% volume media yang akan difermentasi menjadi nata. Pemakaian starter yang terlalu banyak tidak dianjurkan karenatidak ekonomis.
c.       Fermentasi
Fermentasi dilakukan pada media cair yang telah diinokulasi dengan starter. Fermentasi berlangsung pada kondisi aerob (membutuhkan oksigen). Mikroba tumbuh terutama pada permukaan media. Fermentasi dilangsungkan sampai nata yang terbentuk cukup tebal (1,0 – 1,5 cm). Biasanya ukuran tersebut tercapai setelah 10 hari (semenjak diinokulasi dengan starter), dan fermentasi diakhiri pada hari ke 15. Jika fermentasi tetap diteruskan , kemungkinan permukaan nata mengalami kerusakan oleh mikroba pencemar. Nata berupa lapisan putih seperti agar. Lapisan ini adalah massa mikroba berkapsul dari selulosa. Lapisan nata mengandung sisa media yang sangat masam. Rasa dan bau masam tersebut dapat dihilangkan dengan perendaman dan perebusan dengan air bersih.
  1. BAHAN 
1.       Penyiapan biakan murni.
§         Biakan murni A.xylinum
§         Glukosa (100 gram)
§         Ekstrak khamir (5 gram)
§         K2HPO4 (5gram)
§         (NH4)2SO4 (0,6 gram)
§         MgSO4 (0,2 gram)
§         Agar (18 gram)
§         Air kelapa (1 liter)
§         Asam Asetat 25 % untuk mengatur pH menjadi 3-4
2.      Pembuatan Starter
§         Biakan murni A.xylinum
§         Gulkosa 100 gram
§         Urea 5 gram
§         Air kelapa 1 liter
§         Asam Asetat 25 % untuk 25% untuk mengatur pH menjadi 3-4
3.      Fermentasi Nata.
§         Starter
§         Glukosa
§         Urea
§         Limbah cair tahu (whey tahu)
§         Asam Asetat 25 % untuk 25% untuk mengatur pH menjadi 3-4

  1. PERALATAN 
1.       Alat untuk Penyiapan Biakan Murni - Alat pensteril
§         Tabung reaksi dan kapas.
§         Jarum ose
§         Kotak inokulasi
§         Lampu spritus
§         Gelas piala
§         Kompor
§         Kotak inkubasi
§         Lemari pendingin (kulkas)
§         Timbangan
§         pH meter
2.      Pembuatan Starter.
§         Botol bermulut lebar
§         Kertas.
§         Ruang inkubasi
§         Wadah perebus media
§         Timbangan
§         pH meter.
3.      Fermentasi
§         Wadah fermentasi
§         Wadah perebus media
§         Ruang fermentasi
§         Timbangan
§         Kompor
§         pH meter.
4.      Pemanenan Hasil
§         Wadah perendam dan perebus
§         Pemotong nata.

  1. CARA PEMBUATAN 
1.       Penyiapan biakan murni.
a.       Agar (15-18 gram) dimasukkan ke dalam 500 ml air kelapa, kemudian dipanaskan sampai larut. Setelah itu tambahkan ekstrak ragi (5 gram) dan
diaduk sampai larut (larutan a)
b.      Gula (75 gram) dan asam asetat (15 ml) dimasukkan ke dalam 500 ml air kelapa segar yang lain dan diaduk sampai gula larut (larutan b)
c.    Larutan (a) sebanyak 3-4 ml dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian tutup dengan kapas. Larutan (b) 3-4 ml juga dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang lain, kemudian ditutup dengan kapas. Masing-masing disterilkan pada suhu 121°C selama 20 menit.
d.  Setelah selesai sterilisasi dan larutan tidak terlalu panas lagi, larutan (a) dituangkan ke larutan (b) secara aseptis. Setelah itu 1 tabung berisi larutan b diletakkan secara miring utnuk membuat agar miring dan ditunggu sampai agar mengeras.
e.       Inokulum Acetobacter xylinum diinokulasikan pada agar miring diatas. Kemudian diinkubasikan pada suhu kamar atau pada suhu 30°C sampai
tampak pertumbuhan bakteri serupa keloid mengkilat dan bening pada permukaan agar miring.

2.      Pembuatan Starter.
a.  Air kelapa diendapkan, kemudian disaring dengan beberapa lapis kain kassa, kemudian dipanaskan sampai mendidih dengan api besar sambil diaduk-aduk. Setelah mendidih, ditambahkan (a) asam asetat glasial (10- 20 ml asam asetat untuk setiap 1 liter air kelapa), dan gula (75-100,0 gram gula untuk tiap 1 liter air kelapa) campuran ini diaduk sampai gula larut. Larutan ini disebut air kelapa asam bergula.
b.    Urea (sebanyak 3 gram urea untuk setiap 1 liter air kelapa asam bergula yang disiapkan pada no.1 diatas) dilarutkan di dalam sedikit air kelapa (Setiap 1 gram urea membutuhkan 20 ml air kelapa). Larutan ini dididihkan, kemudian dituangkan ke dalam air kelapa asam bergula.
c.       Ketika masih panas, media dipindahkan ke dalam beberapa botol bermulut lebar, masing-masing sebanyak 200 ml. Botol ditutup dengan kapas steril. Setelah dingin, ditambahkan 4 ml suspensi mikroba. Setelah itu, media diinkubasi pada suhu kamar selama 6-8 hari (sampai terbentuk lapisan putih pada permukaan media).
3.      Fermentasi Nata
a.    Whey tahu yang masih segar diendapkan, dan disaring dengan beberapa lapis kain kassa, kemudian dipanaskan sampai mendidih dengan api besar sambil diaduk-aduk. Setelah mendidih, ditambahkan (a) asam asetat glasial (10 ml asam asetat untuk setiap 1 liter whey), dan (2) gula (80 gram gula untuk setiap liter whey). Campuran ini diaduk sampai gula larut. Larutan ini disebut dengan Whey asam bergula.
b.      Urea (sebanyak 5 gram urea untuk setiap 1 liter whey aam berula yang disiapkan pada no. 1 diatas) dilarutkan di dalam sedikit whey yang telah dimasak (setiap 1 gram urea membutuhkan 20 ml whey). Larutan ini dididihkan, kemudian dituangkan ke dalam whey asam bergula. Laruatn yang diperoleh disebut sebagai media nata. Larutan ini didinginkan sampai suam-suam kuku.
c.       Media nata ditambah dengan starter (setiap 1 liter media nata membutuhkan 50-100 ml starter), kemudian dipindahkan ke dalam wadah-wadah fermentasi dengan ketinggian media 4 cm. Wadah ditutup dengan kertas yang telah dipanaskan di dalam oven pada suhu 140°C selama 2 jam. Wadah berisi media ini disimpan di raung fermentasi selama 12-15 hari sampai terbentuk lapisan nata yang cukup tebal (1,5 – 2,0 cm).

4.      Panen dan Pencucian
Lapisan nata diangkat, kemudian dicuci dengan air bersih. Setelah itu nata direndam di dalam air mengalir atau air yang diganti-ganti denan air segar selama 3 hari. Setelah itu nata dipotong-potong dengan panjang 1,5 dan lebar 1,5 cm. Potongan nata direbus 5-10 menit, kemudian dicuci dan direbus lagi selama 10 menit. Hal ini diulangi sampai nata tidak berbau dan berasa asam lagi.

5.      Pembotolan
a.       Pembuatan sirup. Gula yang putih bersih dilarutkan ke dalam air (setiap 2 kg gula dilarutkan ke dalam 4 liter air bersih), kemudian ditambahkan vanilie (secukupnya) danbenzoat (1 gram untuk setiap liter larutan gula). Larutan sirup ini direbus sampai mendidih selama 30 menit.
b.      Pengemasan. Nata yang masih panas segera dimasukkan ke dalam sirup, kemudian didinginkan sampai suam-suam kuku. Setelah itu nata dikemas di dalam kantong plastik rangkap dua, atau di dalam gelas plastik dan kemasan ditutup dengan rapat (kantong plastik diikat dengan karet, dan gelas plastik di seal).


Bioethanol Dari Molases


Bahan :
1.      Tetes Tebu / molasses (kadar gula 50%)
2.      Urea
3.      NPK
4.      Fermipan (Ragi Roti)
5.      Air

Langkah Pembuatan Bioethanol
1.      Pengenceran Tetes Tebu
Kadar gula dalam tetes tebu terlalu tinggi untuk proses fermentasi, oleh karena itu perlu diencerkan terlebih dahulu.kadar gula yang diinginkan kurang lebih 14 %.
Misal : larutkan 28 kg (atau 22.5 liter) molasses dengan 72 liter air. Aduk hingga tercampur merata. Volume airnya kurang lebih 94.5 L. Masukkan ke dalam fermentor.
Catatan: jika kandungan gula dalam tetes kurang dari 50%, penambahan air harus disesuaikan dengan kadar gula awalnya, yang penting adalah kadar gula akhirnya kurang lebih 14%. Brix meter (alat ukur kadar gula)

2.      Penambahan Urea dan NPK
Urea dan NPK berfungsi sebagai nutrisi ragi. Kebutuhan hara tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Urea sebanyak 0.5% dari kadar gula dalam larutan fermentasi.
b.      NPK sebanyak 0.1% dari kadar gula dalam larutan fermentasi.
Contoh perhitungan :
-   14 % x 94.5 lt = 13.23 lt = 13.230 ml (Kadar Gula)
-   0.5 % x 13.230 = 66.15 ml → 70 gram (Urea)
-   0.1 % x 13.230 = 13.23 ml → 14 gram (NPK)

Gerus urea dan NPK ini sampai halus, kemudian ditambahkan ke dalam larutan molasses dan diaduk

3.      Penambahan Ragi
Bahan aktif ragi roti adalah khamir Saccharomyces cereviseae yang dapat memfermentasi gula menjadi etanol. Sebaiknya tidak menggunakan ragi tape, karena ragi tape terdiri dari beberapa mikroba. Kebutuhan ragi roti adalah sebanyak 0.2% dari kadar gula dalam larutan molasses. Untuk contoh di atas kebutuhan raginya adalah (0.2% x 13230 = 26.46 gram → 28 gr).
Ragi roti diberi air hangat-hangat kuku secukupnya. Kemudian diaduk-aduk perlahan hingga tempak sedikit berbusa. Setelah itu baru dimasukkan ke dalam fermentor. Fermentor ditutup rapat.

4.      Fermentasi
Proses fermentasi akan berjalan beberapa jam setelah semua bahan dimasukkan ke dalam fermentor. Kalau anda menggunakan fermentor yang tembus padang (dari kaca misalnya), maka akan tampak gelembung-gelembung udara kecil-kecil dari dalam fermentor. Gelembung-gelembung udara ini adalah gas CO2 yang dihasilkan selama proses fermentasi. Kadang-kadang terdengar suara gemuruh selama proses fermentasi ini. Selama proses fermentasi ini usahakan agar suhu tidak melebihi 36oC dan pH nya dipertahankan 4.5 – 5. Proses fermentasi berjalan kurang lebih selama 66 jam atau kira-kira 2.5 hari. Salah satu tanda bahwa fermentasi sudah selesai adalah tidak terlihat lagi adanya gelembung-gelembung udara. Kadar etanol di dalam cairan fermentasi kurang lebih 7% - 10%.

5.      Distilasi dan Dehidrasi
Setelah proses fermentasi selesai, masukkan cairan fermentasi ke dalam evaporator atau boiler. Panaskan evaporator dan suhunya dipertahankan antara 79 – 81oC. Pada suhu ini etanol sudah menguap, tetapi air tidak menguap. Uap etanol dialirkan ke distilator. Bioetanol akan keluar dari pipa pengeluaran distilator. Distilasi pertama, biasanya kadar etanol masih di bawah 95%. Apabila kadar etanol masih di bawah 95%, distilasi perlu diulangi lagi (reflux) hingga kadar etanolnya 95%.
Apabila kadar etanolnya sudah 95% dilakukan dehidrasi atau penghilangan air. Untuk menghilangkan air bisa menggunakan kapur tohor atau zeolit sintetis. Tambahkan kapur tohor pada etanol. Biarkan semalam. Setelah itu didistilasi lagi hingga kadar etanolnya kurang lebih 99.5 %.

Kamis, 11 Oktober 2012

Membuat Sabun Transparan


Bahan baku sabun transparant :
1.       Minyak
Jenis minyak yang dapat digunakan untuk membuat sabun adalah minyak jarak, minyak jagung, minyak sawit, minyak kelapa dan minyak lainnya.
2.     Natrium Hidroksida (NaOH)
Biasa disebut dengan kaustik soda atau soda api yang merupakan senyawa alkali yang bersifat basa dan mampu menetralisir asam.
3.     Gliserin
Merupakan humektan sehingga dapat berfungsi sebagai pelembab pada kulit. Gliserin dapat melembabkan kulit dan mudah dibilas.
4.     Gula Pasir
Gula pasir berfungsi untuk membantu terbentuknya transparansi pada sabun, dan dapat membantu perkembangan kristal pada sabun.
5.     Etanol
Berbentuk cair, jernih dan tidak berwarna. Merupakan senyawa organic dengan rumus kimia C2H5OH. Etanol digunakan sebagai pelarut pada proses pembuatan sabun transparent karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan lemak.
6.     Asam Stearat
Asam stearat dapat berbentuk cairan atau padatan. Pada proses pembuatan sabun transparent, jenis asam sterat yang di pilih adalah yang berbentuk kristal putih kekuningan. Kristal putih ini mencair pada suhu 56OC. Pada pembuatan sabun, asam stearat berfungsi untuk mengeraskan dan menstabilokan busa.
7.     Coco dietanolamida (Coco-DEA)
DEA berfungsi sebagai surfaktan dan penstabil busa. Surfaktan adalah senyawa aktif penurun tegangan permukaan yang bermanfaat untuk menyatukan fasa minyak dengan fasa air.

Bahan Tambahan :
Diperlukan bahan tambahan untuk memperpanjang umur simpan, seperti garam dan asam sitrat.
1)   Natrium Klorida (NaCl)
Penambahan NaCl selain bertujuan untuk pembusaan sabun, juga untuk emningkatkan konsentrasi elektrolit agar sesuai dengan penurunan jumlah alkali pada akhir reaksi sehingga bahan-bahan pembuat sabun tetap seimbang selama proses pemanasan.
2) Asam Sitrat
Berfungsi sebagai pengelat (chelating agent) yaitu pengikat ion-ion pemicu oksidasi, sehingga mampu mencegah terjadinya oksidasi pada minyak akibat pemanasan. Asam sitrat juga dapat dimanfaatkan sebagai pengawet dan pengatur pH.
3) Pewarna
Ditambahkan untuk menghasilkan sabun yang beaneka warna, aditif warna yang ditambhakan tidak boleh memiliki efek warna yang berlawanan terhadap sifat transparansi sabun yang dihasilkan. Bahan pewarna yang ditambahkan adalah bahan pewarna untuk kosmetik grade.
4) Pewangi
Untuk memberikan efek wangi pada sabun yang dihasilkan, seperti halnya pewarna yang ditambahkan tidak boleh memiliki efek ynang berlawanan terhadap sifat transparansi sabun yang dihasilkan.

Peralatan yang digunakan :
Peralatan yang digunakan harus sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas sabun yang akan dihasilkan,
1.       Mesin pengaduk
Digunakan untuk menghomogenkan bahan-bahan sabun selama proses pemasakan dan pencampuran berlangsung. Pengadukan harus dilakukan secara kontinyu supaya campuran bahan-bahan menjadi homogen.
2.     Tangki pemanas
Digunakan untuk mencairkan, melarutkan dan mencanpurkan semua bahan.
3.     Kompor
Digunakan sebagai pemanas pada proses pemasakan, bisa berbahan bakar kayu, gas maupun kompor listrik.
4.     Wadah
Diperlukan untuk menampung bahan baku yang akan dicampurkan ke tangki pemanas saat pencairan dan pencampuran berlangsung.
5.     Alat pemotong
Digunakan untuk memotong sabun transparant.
6.     Timbangan
Diperlukan untuk menimbang bahan baku dan bahan tambahan berdasarkan formulasi yang telah ditentukan, sebaiknya menggunakan timbangan digital karena keakuratannya lebih baik ketimbang timbangan manual.
7.     Cetakan sabun
Cetakan dapat terbuat dari stainless steel, plastik atau fiber.
8.     Kemasan
Pengemasan dapat disesuaikan dengan image sabun transparant.
                      
Proses Pembuatan Sabun transparent :
1.       Proses pembuatan sabun transparent dasar (base soap)
Bahan – bahan dan cara pembuatan sabun transparent dasar :
Bahan :
·        Asam stearat                1175 gram
·        Minyak                        500 gram
·        NaOH 30%                  5075 gram
·        Gliserin                       3250 gram
·        Etanol                          3750 gram
·        Gula Pasir                    1875 gram
·        Cocoamide DEA            750 gram
·        NaCl                            5 gram
·        Asam Sitrat                 750 gram
·        Air                              112.5 ml
·        Cetakan persegi

Cara Pembuatan :
1)   Cairkan asam stearat pada suhu 60OC selama 15 menit, kemudian tambahkan minyak dan aduk sampai merata.
2)    Jika suhu sudah mencapai 70 – 80OC tambahkan NaOH dan aduk selama 2 -3 menit hingga terbentuk sabun.
3)  Tambahkan gliserin, gula, asam sitrat, etanol, cocoamide DEA, NaCl dan air. Pengadukan terus dilakukan hingga campuran menjadi homogen sekitar 7 – 10 menit.
4)    Tuangkan campuran ke dalam cetakan dan diamkan selama 24 jam hingga sabun mengeras.
5)   Keluarkan sabun transparent dasar yang telah mengeras dari cetakan dan simpan dalam kardus.

2.     Proses pembuatan sabun transparent
Bahan :
·        Bahan sabun transparent dasar (base soap) 1.25 gram
·        Pewarna (kuning muda, kosmetik grade)                 0.05 gram
·        Pewangi (aroma floral)                                         11.25 gram
·        Cetakan
Cara pembuatan :
1)  Masukkan sabun tranparant dasar ke dalam tangki pemanas yang sedang dipanaskan,
2)    Lelehkan sabun dasar pada suhu 70OC selama 45 – 60 menit. Saat bahan sabun dasar setengah meleleh, pengadukan dimulai secara perlahan hingga sabun transparent dasar meleleh sempurna.
3)    Sambil diaduk, tambahkan pewarna dan pewangi hingga homogen.
4)  Tuangkan campuran tersebut ke dalam cetakan dan diamkan selama 12 jam hingga sabun mengeras.
5) Keluarkan sabun transparent yan telah mengeras dari cetakan, kemudian dilakukan proses “aging” selama satu bulan agar selama disimpasn tidak terjadi perubahan bentuk. Kemas menggunakan plastic wrapping.
6) Masukkan sabun yang telah dikemas ke dalam kemasan khusus menggunakan kemasan plastic ataupun kertas yang telah didesain menarik.


Senin, 01 Oktober 2012

Teknologi Pengolahan Garam


Bahan Baku

Bahan baku pembuatan garam adalah air laut. Air laut mengandung garam-garam mineral, yaitu NaCl (garam meja) sebanyak 2%; garam-garam kalsium (CaCl2 dan CaSO4) dan garam-garam magnesium (MgCl2 dan MgSO4) sebanyak 1,5%; air sebanyak 96,5%; beserta cemaran logam berat dan senyawa pengotor tidak terlarut dalam jumlah kecil.

Sedimentasi dan Pengeringan (Pemekatan)

Proses ini biasanya dilakukan menggunakan sistem kolam dengan menggunakan penjemuran sinar matahari. Air laut didiamkan di dalam kolam sehingga kotoran mengendap pada bagian bawah sedangkan sebagian air menguap karena panas matahari. Metode penjemuran membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Metode yang lebih modern dengan menggunakan filtrasi membran untuk memisahkan senyawa pengotor dan mesin pengering untuk mengurangi kadar air dapat mempersingkat waktu proses.

Koagulasi

Koagulasi dilakukan dengan penambahan larutan Na2CO3 20% dan larutan NaOH 0,1 N untuk mengendapkan garam-garam kalsium dan magnesium.

Flokulasi dan sedimentasi

Pada proses ini ditambahkan senyawa flokulan Polyalluminium Chlorida (PAC) sebanyak 10 ppm untuk mempercepat pembentukan flok sehingga pengendapan dapat dipercepat. Selanjutnya larutan garam dipisahkan dari endapan yang terbentuk

Adsorbsi

Cemaran logam berat (meliputi: Pb, Hg, dan Cu) dihilangkan melalui penyerapan zeolit. Jumlah zeolit yang ditambahkan yaitu sebanyak 2 gram / liter larutan garam.

Pengeringan (Kristalisasi)

Larutan garam selanjutnya dikeringkan hingga terbentuk kristal garam dengan kadar air 2-4%. Pembentukan kristal terjadi karena pengurangan kadar air hingga mencapai kondisi super jenuh. Selanjutnya akan terbentuk inti kristal, dan kristal-kristal garam mulai terbentuk.

Grinding

Kristal-kristal garam yang terbentuk memiliki ukuran yang kurang seragam maka dilakukan grinding untuk membuat ukuran partikel yang halus dan seragam. Selanjutnya hasil grinding d ayak dengan menggunakan ayakan ukuran 0,5 – 1,5 mm. Partikel yang tidak lolos dalam proses pengayakan akan kembali ke proses grinding.

Iodisasi

Penambahan iodium dilakukan dengan metode tetes. Larutan iodium (KI) 50% ditambahkan pada kristal garam yang sudah halus sebanyak 7% (bb/bb) dari garam kering. Kadar yodium pada garam akhir adalah 3% sedangkan kadar airnya adalah 7% sesuai dengan SNI 01-3556-2000 tentang Garam Konsumsi Beryodium.

Tepung Telur Alternatif

Di jaman yang serba praktis seperti sekarang ini, banyak sekali produk-produk pangan yang serba instan. Begitu pula dengan telur, suda...