Senin, 01 Oktober 2012

Teknologi Pengolahan Garam


Bahan Baku

Bahan baku pembuatan garam adalah air laut. Air laut mengandung garam-garam mineral, yaitu NaCl (garam meja) sebanyak 2%; garam-garam kalsium (CaCl2 dan CaSO4) dan garam-garam magnesium (MgCl2 dan MgSO4) sebanyak 1,5%; air sebanyak 96,5%; beserta cemaran logam berat dan senyawa pengotor tidak terlarut dalam jumlah kecil.

Sedimentasi dan Pengeringan (Pemekatan)

Proses ini biasanya dilakukan menggunakan sistem kolam dengan menggunakan penjemuran sinar matahari. Air laut didiamkan di dalam kolam sehingga kotoran mengendap pada bagian bawah sedangkan sebagian air menguap karena panas matahari. Metode penjemuran membutuhkan waktu sekitar 2 minggu. Metode yang lebih modern dengan menggunakan filtrasi membran untuk memisahkan senyawa pengotor dan mesin pengering untuk mengurangi kadar air dapat mempersingkat waktu proses.

Koagulasi

Koagulasi dilakukan dengan penambahan larutan Na2CO3 20% dan larutan NaOH 0,1 N untuk mengendapkan garam-garam kalsium dan magnesium.

Flokulasi dan sedimentasi

Pada proses ini ditambahkan senyawa flokulan Polyalluminium Chlorida (PAC) sebanyak 10 ppm untuk mempercepat pembentukan flok sehingga pengendapan dapat dipercepat. Selanjutnya larutan garam dipisahkan dari endapan yang terbentuk

Adsorbsi

Cemaran logam berat (meliputi: Pb, Hg, dan Cu) dihilangkan melalui penyerapan zeolit. Jumlah zeolit yang ditambahkan yaitu sebanyak 2 gram / liter larutan garam.

Pengeringan (Kristalisasi)

Larutan garam selanjutnya dikeringkan hingga terbentuk kristal garam dengan kadar air 2-4%. Pembentukan kristal terjadi karena pengurangan kadar air hingga mencapai kondisi super jenuh. Selanjutnya akan terbentuk inti kristal, dan kristal-kristal garam mulai terbentuk.

Grinding

Kristal-kristal garam yang terbentuk memiliki ukuran yang kurang seragam maka dilakukan grinding untuk membuat ukuran partikel yang halus dan seragam. Selanjutnya hasil grinding d ayak dengan menggunakan ayakan ukuran 0,5 – 1,5 mm. Partikel yang tidak lolos dalam proses pengayakan akan kembali ke proses grinding.

Iodisasi

Penambahan iodium dilakukan dengan metode tetes. Larutan iodium (KI) 50% ditambahkan pada kristal garam yang sudah halus sebanyak 7% (bb/bb) dari garam kering. Kadar yodium pada garam akhir adalah 3% sedangkan kadar airnya adalah 7% sesuai dengan SNI 01-3556-2000 tentang Garam Konsumsi Beryodium.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar